Lagi Pula Siapa Yang Ingin Gagal? Aku Juga Berusaha
Aku pernah punya mimpi besar. Bukan mimpi jadi astronaut atau miliarder, tapi sesuatu yang lebih sederhana: membangun rumah sendiri. Ya, rumah impianku. Bukan rumah mewah dengan kolam renang dan helipad, tapi rumah kecil yang nyaman, tempat aku bisa duduk di teras sambil minum kopi pagi, tanpa ribut tetangga atau sewa apartemen yang bikin kantong bolong. Aku baca buku-buku self-help, nonton video motivasi di YouTube, dan bilang ke diri sendiri, "Ini saatnya! Aku bisa lakuin ini." Usiaku 22 tahun waktu itu, kerja sebagai manajer toko biasa-biasa saja, gaji cukup buat beli tanah kecil di pinggir kota kampung halaman. Tanah itu murah, sekitar 50 juta, dari hasil tabungan dan pinjaman bank. "Ini investasi," kataku ke ibu. Ibu cuma geleng-geleng, "Nak, kau kan bukan tukang bangun. Kenapa gak sewa aja?" Tapi aku keras kepala. "Ibu, ini soal martabat. Aku mau buktikan kalau aku bisa."
Hari pertama, aku datang ke tanah itu dengan mobil tua yang dipinjam dari teman. Cuaca cerah, angin sepoi-sepoi, sempurna buat awal. Aku bawa peralatan: palu, sekop, ember, dan semen yang kubeli online padahal ada toko bagunan offline dekat rumah. "Fondasi dulu," gumamku sambil buka tutorial di ponsel. Aku mulai gali tanah, campur pasir dan semen. Tapi, eh, ternyata aku salah ukur. Fondasi itu jadi miring kayak menara Pisa. "Ah, gak apa-apa, nanti aku perbaiki," kataku, sambil makan mie instan dingin karena lupa bawa termos. Aku kerja sampai sore, badan pegal-pegal, tapi aku senang. "Ini awal dari sesuatu yang hebat," pikirku.
Malamnya, aku pulang ke rumah, mandi, dan tidur sambil bermimpi rumahku jadi viral di Instagram. Tapi mimpi itu cepat buyar. Hari kedua, aku lanjut dengan dinding. Aku susun bata satu per satu, seperti yang dibilang orang bijak: "Batu bata kecil bisa membangun istana." Tapi aku lupa: aku kan bukan tukang bangunan profesional. Bata pertama jatuh, yang kedua retak, dan yang ketiga... well, aku injak sendiri karena kesel. Darah mengucur dari jari tangan, campur debu dan semen. "Sakitnya ampun!" jeritku, sambil loncat-loncat kayak orang kesetrum. Aku lari ke apotek terdekat, beli plester dan obat merah, lalu balik lagi. "Ini medan laga," kataku ke diri sendiri. "Aku pertaruhkan seluruh kewarasanku di sini." Aku kerja sampai malam, tidur tiga jam sehari, makan roti basi, dan nonton video tutorial sampai mata merah. Kadang aku telepon teman, "Bro, aku lagi bangun rumah. Mau datang bantu?" Teman-teman cuma ketawa, "Kau gila ya? Kami sibuk kerja." Salah satu teman, si Budi, datang sekali, lihat puing-puingku, dan bilang, "Ini kayak instalasi seni modern. Mau aku fotoin buat Instagram?" Aku cuma geleng, tapi dalam hati senang ada yang hargai usahaku.
Minggu pertama berlalu, dan rumahku mulai bentuk. Tapi masalah datang satu per satu. Atap yang kubeli online ternyata ukurannya salah, terlalu kecil. "Mungkin aku bisa potong-potong," pikirku, sambil ambil gergaji. Hasilnya? Atap itu jadi kayak puzzle yang salah pasang. Lalu, pipa ledeng. Aku coba pasang sendiri, tapi bocor di mana-mana. "Ini kayak film horor," kataku sambil basah kuyup. Aku telepon tukang ledeng, tapi dia bilang, "Bang, ini rusak parah. Lebih baik ganti semua." Biayanya? Tambah 10 juta. Utangku mulai menumpuk, tapi aku gak mau mundur. "Ini soal prinsip," kataku ke cermin. "Aku gak mau jadi orang yang menyerah."
Di tengah proses itu, aku kenal tetangga baru. Namanya Pak Suroto, pensiunan guru yang tinggal di rumah sebelah. Pak Suroto sering datang, bawa kopi dan rokok, lalu duduk nonton aku kerja. "Nak, kau ini pemberani," katanya. "Tapi kenapa gak sewa tukang aja?" Aku jelasin, "Pak, ini tantangan diri. Aku mau buktikan kalau aku bisa." Pak Suroto ketawa, "Ah, muda-muda zaman sekarang. Dulu aku juga gitu, mau bangun kandang ayam sendiri, hasilnya ayam-ayam kabur semua." Cerita Pak Suroto bikin aku tertawa, tapi juga bikin aku mikir. Mungkin aku terlalu ambisius.
Lalu ada masalah lain: cuaca. Hujan datang tiba-tiba, fondasi yang miring itu mulai retak. Dinding yang kususun roboh seperti domino. Rumahku? Lebih mirip tumpukan puing-puing. Aku coba perbaiki, tapi makin rusak. "Ini takdir," gumamku, sambil duduk di tanah basah. Tetangga lain datang, lihat-lihat, dan bilang, "Wah, ini apa? Instalasi seni?" Aku cuma bisa tertawa kering. "Ya, seni kegagalan," jawabku. Pak Suroto datang lagi, bawa payung, "Nak, ini bukan akhir dunia. Kau masih muda, bisa mulai lagi." Tapi aku merasa hancur. Seluruh kewarasanku, waktu, dan uang, semua terbuang.
Malam itu, aku pulang, basah kuyup, dan telepon pacar waktu itu. Namanya Sari, cewek yang aku kenal di kafe. "Sar, aku gagal banget," kataku. Sari coba hibur, "Gak apa-apa, Sayang. Kau kan manajer, bukan tukang bangun." Tapi aku marah, "Ini soal harga diri!" Akhirnya, kami putus. Sari bilang aku terlalu keras kepala, aku bilang dia gak ngerti. Itu tambah sakit. Kegagalan rumah bikin segalanya runtuh.
Beberapa hari kemudian, aku jual tanah itu dengan harga murah, bayar utang, dan sekarang kerja di kafe sebagai barista. Setiap hari, aku buat kopi untuk orang-orang yang sukses, sambil tersenyum. Kadang aku pikir, "Adakah jiwa yang gila sampai sengaja meminang kegagalan?" Mungkin aku dulu gila, tapi sekarang aku sadar: kegagalan itu bukan akhir, tapi bahan bakar untuk cerita lucu di depan teman-teman. Aku sering ketemu Pak Suroto, dia bilang, "Nak, kau belajar dari kesalahan. Itu lebih berharga daripada rumah." Dan Sari? Kami ketemu lagi, dia bilang maaf, dan sekarang kami teman baik. Hidup terus berjalan.
Kadang aku lihat foto-foto puing-puing itu di ponsel, dan tertawa. "Aku pernah gila," kataku. Tapi aku tetap berdiri di atas kegagalanku, dengan sisa martabat yang ku punya. Dan hei, setidaknya aku belajar satu hal: jangan pernah bangun rumah tanpa baca manual dulu. Atau, lebih baik lagi, sewa tukang profesional. Hidup lebih mudah begitu. Tapi kalau takdir bilang jatuh, ya jatuhlah dengan gaya. Dengan sisa martabat, tentu saja. Dan siapa tahu, suatu hari aku coba lagi tapi kali ini, dengan bantuan orang lain. Karena kadang, kegagalan yang paling lucu adalah yang kita alami sendiri, tapi kita ceritakan dengan bangga, sebagian dari kalian mungkin berpikir ini bukan cerita tetang rumah.😁https://www.haris.eu.org/
